30 Nov 2025, Sun

Black Friday : Sejarah, Tren, Strategi & Cara Maksimalkan Diskon

Black friday 2025

Black Friday kembali menjadi momen belanja terbesar yang ditunggu konsumen dan pelaku bisnis di seluruh dunia. Fenomena diskon masif ini tidak hanya memengaruhi perilaku belanja, tetapi juga strategi pemasaran modern yang berkembang setiap tahun. Dalam artikel ini, kita akan membahas sejarah, tren terbaru, hingga strategi memaksimalkan peluang di Black Friday 2025.

Asal-Usul Istilah Black Friday

1950-an: Istilah Black Friday muncul di Philadelphia untuk menggambarkan kemacetan dan kekacauan sehari setelah Thanksgiving.
1960–1970-an: Istilah mulai dikenal luas karena aktivitas belanja yang membludak.
1980-an: Makna positif diperkenalkan retail “masuk ke zona hitam” (in the black) karena mulai untung besar.
2000-an: Black Friday menjadi hari belanja terbesar di AS.
2010-an hingga sekarang: Black Friday mendunia berkat e-commerce dan menjadi event diskon global, termasuk di Indonesia.

Strategi Pemasaran & Penjualan Black Friday

1. Flash Sale & FOMO Trigger
Gunakan countdown timer, stok terbatas, dan notifikasi real-time untuk memaksimalkan urgency.

2. Dynamic Pricing
Sesuaikan harga otomatis berdasarkan permintaan, stok, dan perilaku pengguna.

3. Segmented Email Blast
Kirim penawaran berbeda untuk tiap segmen (loyal, new users, high spenders) berbasis data CRM.

4. Performance Ads Optimization
Retargeting pixel, lookalike audience, dan A/B testing kreatif untuk menekan CPA.

5. Mobile-First UX
Optimalkan kecepatan halaman, lazy load, dan 1-click checkout guna mengurangi drop-off mobile.

6. Personalized Product Recommendations
Tampilkan rekomendasi otomatis berbasis AI: “frequently bought together” dan “users like you also bought.”

7. Cart Recovery Workflow
Gunakan automasi reminder di email/WhatsApp/Push Notification untuk mengurangi abandon cart.

8. Omnichannel Campaign
Integrasikan website, marketplace, dan media sosial dengan pesan promosi yang konsisten.

Dampak Terhadap Konsumen & Perilaku Belanja

1. Perubahan Pola Belanja ke “Deal-Oriented”
Konsumen lebih fokus pada harga terbaik, membandingkan promo, dan menunggu momen diskon besar.

2. Dorongan Impulse Buying
Flash sale dan countdown timer meningkatkan keputusan pembelian cepat tanpa pertimbangan panjang.

3. Perencanaan Anggaran Lebih Ketat
Banyak konsumen mulai menyisihkan budget khusus untuk Black Friday dan Cyber Monday.

4. Perpindahan ke Belanja Online
Ketersediaan promo digital dan kenyamanan checkout membuat perilaku belanja bergeser ke e-commerce.

5. Expectation Shift
Konsumen terbiasa berharap diskon besar, sehingga brand “dipaksa” menawarkan harga agresif setiap tahun.

6. Loyalitas Berbasis Value, Bukan Brand
Konsumen menjadi lebih fleksibel dan mudah pindah ke merek lain jika menemukan penawaran lebih baik.

7. Data-Driven Shopping Behavior
Konsumen menggunakan wishlist, price tracker, notifikasi promo, dan tools perbandingan harga sebelum membeli.

Untuk Tips Keamanan & Belanja Aman

Baca Juga : Inovasi iklan menggunakan AI Generated Ads

By Putri A